Biogas Berbaju tabung LPG Mungkinkah ?!


Jan 07, 2016 by Disnak Jabar    Dibaca : 661 Kali
 

Kotoran sapi selama ini dianggap menjadi masalah yang cukup susah untuk diatasi terutama pada wilayah dengan populasi sapi cukup dominan. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi pencemaran yang disebabkab oleh kotoran sapi diantaranya dengan mengubahnya menjadi kompos, dan biogas. Namun kedua program tersebut belum dapat secara optimal menyelesaikan masalah terutama untuk biogas. Walaupun peternak bisa memperoleh energi yang murah/ bahkan mungkin gratis, namun mereka menganggap biogas ini kurang praktis jika dibandingkan dengan gas LPG yang disediakan oleh pemerintah.

Jika dibandingkan maka kelebihan dan kekurangan antara Biogas kotoran dengan LPG melon ialah sebagai berikut:

Biogas

LPG

Kelebihan:

Kelebihan:

1.       Harga relatif Murah/ gratis (biaya untuk beli reaktor dan pemasangan)

1.       Praktis digunakan

2.       Aman digunakan (kemungkinan meledak kecil)

2.       Tekanan gas lebih konstan

3.       Dapat tersedia terus asal perawatan baik

3.       Sparepart mudah didapat

Kekurangan:

Kekurangan:

1.       Perlu lahan untuk memasang reactor dan modal awal yang cukup tinggi

1.       Modal awal relaitif murah terutama untuk LPG 3 Kg

2.       Tekanan gas kadang lemah

2.       Keamanan kurang/ kadang bisa meledak

3.       Pemeliharaan/ sparepart biogas susah didapat

3.       Pasokan kadang tidak continue karena diatur secara bisnis

4.       Perlu diawasi/ dipelihara dengan intensif

4.       Harga cukup mahal

Berdasarkan kondisi tersebut maka timbulah pertanyaan bisakah kita mendapatkan energy (Gas) untuk memasak yang se-praktis LPG namun semurah biogas?. Jawabannya mungkin bisa jika gas CH4 hasil proses reaktor biogas disuntikan kedalam tabung dan dipakai seperti gas LPG. Pertanyaan selanjutnya apakah bisa memasukan biogas kedalam kemasan/tabung LPG?, dan apakah itu mudah dilakukan?.

Gas yang dihasilkan oleh reaktor biogas dari kotoran sapi dapat dikemas dalam tabung gas LPG biasa, termasuk ukuran 3 Kg (melon) dengan syarat tekanan gasnya berkisar antar 0.1025-0.8 MPa dan kandungan CH4 berkisar antara 80-90%. Adapun Tekanan gas yang dihasilkan reaktor biogas biasanya hanya sekitar 0.1 MPa serta kandungan CH4 hanya 55-70% maka cukup sulit untuk dikemas/disuntikan kedalam tabung LPG (Lindeboom, 2014). Perbandingan berbagai macam gas yang biasa dipakai sebagai sumber energi ialah sebagaimana tersaji pada tabel dibawah ini:

Application

Pressure (MPa)

CH4 (%)

CO2 (%)

H2O Dew Point (0C)

H2S/ Total S

NH3

Biogas

0.1

55-70

30-45

Saturated 300C

50-5000 ppm

0-300ppm

Natural Gas

10-30

70-92

0-8

saturated

0-5%

-

Boiler-gas heater and kitchen stove

0.1025

>96

-

>1500C to Pervent corrosion form H2SO4

1000 ppm

-

Regional natural gas grid

0.8

80-90

<6

-100C at0.8 Mpa

4 ppm

0.167 Nmol

Vehicle Fuel

20

>96

3

400C

23 ppm

 

Sources: Lindeboom, 2014

Menggunakan teknologi AHPD (Autogenerative High Pressure Digestion) yang dikembangkan oleh Lindeboom mahasiswa doktoral di Wagenningen University (2014) kandungan CH4 pada biogas (Reaktor biogas) dapat dinaikan sehingga setara dengan gas alami (LPG) sebesar 90-95% dan tekanan gas dinaikan sehingga mencapai 9 MPa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka biogas yang dihasilkan dapat disuntikan langsung kedalam kemasan/tabung LPG karena keadaanya sudah hampir sama dengan gas alam (LPG).

Masalah utama dari penerapan teknologi ini ialah investasi awal yang cukup tinggi untuk mengadakan alat/teknologi AHPD, serta mahalnya alat untuk menyuntikan biogas kedalam tabung kemasan LPG. Atas dasar kondisi tersebut maka peran pemerintah sangat penting pada tahapan awal ini. Adapun subsidi yang bisa diberikan oleh pemerintah misalkan dengan memberikan bantuan berupa pengadaan alat teknologi AHPD dan alat untuk pengemasan biogas kedalam tabung LPG.

Gambar alat untuk mengaplikasikan teknologi AHPD pada rekator biogas asal kotoran hewan ialah sebagai berikut:

 

Source: Lindeboom, 2014

Selain itu teknologi ini akan efisien jika diterapkan pada reaktor biogas komunal besar bukan reaktor skala rumah tangga. Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dibangun sebuah pabrik kecil untuk menampung kotoran ternak sapi dari peternak untuk diolah menjadi biogas. Selain itu mini pabrik ini merupakan tempat untuk memasang teknologi AHPD dan alat untuk memasukan biogas kedalam tabung kemasan LPG 3 Kg atau mungkin 12 Kg.

Dimana prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Peternak setor Kotoran ternak


Peternak Pulang bawa gas atau kompos


Reaktor Biogas


Instalasi AHPD


Instalasi suntik biogas ke tabung LPG


 Text Box: PABRIK MINI BIOGAS 

 

Proses pelaksanaan kegiatan semuanya harus melibatkan peternak termasuk operator yang menjalankan pabrik pada nantinya haruslah berasal dari peternak atau masyarakat sekitar. Adapun mekanisme kerjanya seperti tergambar diatas peternak menyetor kotoran sapi mentah untuk selanjutnya dibeli atau dihargai oleh pabrik sebagai pembayarannya peternak bisa memilih antara membawa Gas atau kompos yang dihasilkan oleh mini pabrik. Proses pelaksanaan kegiatan tersebut diharapkan terus berputar tentunya dengan supervisi dari pemerintah dan tim ahli (akademisi).

Adapun pembagian peran pada proses pelaksanaanya ialah pemerintah memberikan fasilitasi awal dalam penyediaan mesin dan bangunan untuk mini pabrik. Peran dari Masyarakat ialah menyediakan lahan dan terlibat dalam proses pembuatan gas yang sudah dilaksanakan. Peran akademisi merupakan tim ahli yang menjadi agen yang mengenalkan, mengajar penerapan teknologi ini. Serta bisnis misalkan koperasi dapat dilibatkan juga jika produksi kompos atau biogas yang dihasilkan cukup banyak sebagai agen pemasaran produk.

Adapun kelemahan dari implementasi teknologi ini ialah:

-          Ketersediaan alat AHPD di Indonesia atau adakah tim akademisi/tim ahli yang bisa membuat modifikasi alat ini sehingga bisa dipakai dengan mudah dan murah di Indonesia.

-          Belum adanya penelitian lebih lanjut mengenai kelayakan ekonomi dari penerapan teknologi ini.

-          Ketersediaan tim ahli atau peneliti yang bisa menerapkan teknologi ini karena penelitian berdasarkan disertasi dilakukan di Wagenningen University Belanda.

-          Perlunya bimbingan teknis atau pelatihan untuk kelompok peternak, Koperasi yang akan dijadikan percontohan penerapan teknologi ini.

 

References

Lindeboom, R.E.F, (2014). Autogenerative High Pressure Digestion Biogas production and upgrading in a single. Doctoral Dissertation, Wagenningen University, 1–208.

 

 
 


Share this Post :