TEKNOLOGI PEMANFAATAN DAUN JAGUNG


Jan 07, 2016 by Disnak Jabar    Dibaca : 820 Kali
 

TEKNOLOGI PEMANFAATAN DAUN JAGUNG 

     

Pakan ternak adalah semua bahan-bahan yang dapat diberikan secara langsung oleh ternak untuk dikonsumsi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pertumbuhan, dan reproduksi. Pakan yang baik atau berkualitas adalah dapat memberikan seluruh kebutuhan nutrisi secara tepat. Jumlah kebutuhan nutrisi ternak tergantung pada jenis ternak, umur, fase pertumbuhan, reproduksi, kondisi tubuh (normal atau sakit), bobot badan, serta kondisi lingkungan. Sehingga setiap ternak baik itu ternak ruminansia dan unggas berbeda-beda kebutuhan pakannya.
Ketersediaan hijauan pakan ternak di Indonesia terbilang cukup melimpah, terutama pada musim penghujan, namun sebaliknya, ketika musim kemarau pakan hijauan akan sangat rendah. Untuk mengatasi kesulitan mendapatkan hijauan pakan ternak dikala musim kemarau diperlukan upaya yang efektif agar hijauan pakan dapat tersedia meski jumlahnya sangat sedikit, salah satunya ialah dengan memanfaatkan daun jagung.
Tanaman jagung merupakan salah satu tanaman pangan utama setelah padi; yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan ternak karena hampir keseluruhan bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan. Di Indonesia, jumlah kebutuhan jagung meningkat dari tahun ke tahun dalam jumlah yang cukup tinggi karena adanya permintaan dari industri pakan ternak (Departemen Pertanian, 2007). Oleh sebab itu, Pemerintah berusaha meningkatkan produksi jagung melalui perluasan penanaman tanaman jagung antara lain melalui program Gema Palagung dengan target dalam kurun waktu 2005 – 2015 akan terjadi tambahan areal panen seluas 456.810 ha (Suryana,2006).
Pemanfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal sebagai jerami jagung dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak sudah banyak dilakukan peternak, namun belum optimal pemanfaatannya. Selain diberikan pada ternak sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan sebagai hijauan pakan ternak yang mengalami proses pengolahan teknologi pakan dalam bentuk hay dan silase.
Pada saat musim panen, tersedia jerami jagung yang melimpah, namun saat masa panen selesai, tidak jarang jerami jagung menjadi langka. Oleh karena itu, teknologi pengolahan pengawetan jerami jagung perlu dibudayakan oleh peternak agar menjamin tersedianya hijauan pakan ternak sepanjang tahun sekaligus meningkatkan kualitas mutu pakan. Pembuatan hay, jerami jagung segar dilayukan dan dikeringkan untuk diawetkan dan disimpan dalam beberapa waktu. proses pengeringan dan pelayuan pembuatan hay akan menurunkan kandungan kadar air sampai tersisa dua puluh persen tanpa adanya kerusakan nilai gizi pakan kecuali vitamin A dan D yang cenderung turun. Jerami jagung yang baik untuk pembuatan hay adalah batang dan daun jerami jagung yang masih berwarna hijau.
Limbah jagung yang dapat dibuat silase adalah seluruh tanaman termasuk buah mudanya atau buah yang hampir matang atau limbah yang berupa tanaman jagung setelah buah dipanen dan kulit jagung. Tanaman jagung yang tersisa dari panen jagung masih cukup tinggi kadar airnya. Untuk pembuatan silase, dibutuhkan kadar air sekitar 60%. Oleh sebab itu, tanaman jagung harus dikeringkan sekitar 2 – 3 hari. Limbah dipotong menjadi potongan-potongan kecil lalu dimasukkan sambil dipadatkan sepadat mungkin ke dalam kantong-kantong plastik kedap udara atau dalam silo-silo yang berbentuk bunker (Nusio, 2005). Bila dalam proses pembuatan silase suasana kedap udara tidak 100% maka bagian permukaan silase sering terkontaminasi dan ditumbuhi oleh bakteri lain yang merugikan seperti bakteri Clostridium tyrobutyricum yang mampu mengubah asam laktat menjadi asam butirat (Driehuis dan Giffel, 2005). 
Pembuatan hay dilakukan dengan dua cara yaitu model hamparan dan model pod. pembuatan hay model hamparan, dengan cara menghamparkan jerami jagung yang sudah dipotong-potong dilapangan terbuka dibawah sinar matahari. setiap hari dilakukan pembalikan berulang-ulang sampai kering baru bisa disimpan dan dapat digunakan pada saat musim paceklik pakan ternak. pembuatan hay dengan model pod diperlukan sedikit tambahan biaya, diperlukan rak sebagai tempat menyimpan jerntami jagung yang telah dijemur selama 1-3 hari. rak tempat menyimpan jerami jagung dapat berbentuk tripod yaitu rak jerami berkaki tiga atau tetrapod (rak dengan kaki 4) pilihan rak mana yang akan dipilih tidak mengikat, pastinya rak dapat digunakan untuk menyimpan jermai jagung selama 3-6 minggu sebelum digunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan pembuatan hay adalah teknologinya sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan oleh petani ternak, pada saat panen jagung tersedia jerami jagung yang melimpah dan dapat disimpan untuk digunakan saat paceklik hijauan pakan ternak. Sedangkan kelemahan dari pembuatan hay adalah sangat tergantung dengan keberadaan sinar matahari, tidak semua jenis hijauan pakan ternak dapat dibuat hay, memerlukan tenaga kerja untuk pembalikan jerami jagung dan simpan jemur pada saat proses pembuatannya.
Pembuatan silase, dilakukan dengan cara jerami jagung dipotong-potong dan dimasukkan kedalam tempat/ruangan yang kedap udara dan dipadatkan untuk disimpan dalam wadah tertentu.menghasilkan silase yang berkualitas baik perlu diperhatikan benar temperatur pembuatan silase berkisar 27-35 derajat celsius dengan hasilnya mempunyai tekstur segar, berwarna kehijau-hijauan, tidak berbau busuk, tidak berjamur, tidak menggumpal dan disukai ternak. Persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh peternak yang akan membuat silase adalah harus mempunyai luasan areal yang cukup untuk silo yaitu tempat menyimpan hijauan proses pembuatan silase.idealnya pembuatan silase disesuaikan dengan kebutuhan dengan patokan penggalian lubang setiap 150 meter kubik dapat menampung 150 kg bahan kering hijauan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan silase ukuran 1 ton hijauan terdiri dari asam organik(asam format, asam sulfat, asm aklorida/asam propionat)4-6 kg, molasses atau tetes 40 kg, garam 30 kg,dedak padi 40 kg,menir 36 kg dan onggok 30 kg. penambahan-bahan dilakukan secara merata keseluruh potongan jerami jagung yang dibuat silase. pencamuran molasses atau tetes sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan cara pencampuran secara berlapis bergantian dengan campuran bahan dan jerami jagung yang dipadatkan, pada saat penempatan jerami jagung pada lubang galian tanah yang dikenal sebagai silo dan selanjutnya dilakukan penutupan silo.
Berdasarkan hasil penelitian, pertambahan bobot hidup harian (PBHH) yang diperoleh bervariasi dari 0,46 kg/hari (Sariubang et al.,2005) sampai 0,70 kg/hari (Mariyono et al., 2005). Di luar negeri, silase limbah perkebunan jagung telah umum digunakan sebagai sumber hijauan dan dipakai untuk menggantikan sebagian silase rumput (Keady, 2005). Pengkajian berbagai bentuk silase tanaman jagung di peternakan sapi potong dan sapi perah telah dilakukan di berbagai negara (Tjardes et al., 2002; Bal et al.,2000; Neylon dan Kung,2003;Keady, 2005). Pemberian silase jagung yang berbeda kandungan NDFnya (34 dan 51%) kepada dua bangsa sapi (Angus dan Holstein) memberikan respon yang berbeda. Kandungan NDF yang lebih tinggi menurunkan konsumsi bahan kering silase jagung pada kedua bangsa sapi tersebut tetapi jumlah energi tercerna pada bangsa sapi Angus lebih tinggi dari pada Holstein (Tjardes et al., 2002). 
Studi di Irlandia Utara menunjukkan bahwa silase seluruh tanaman jagung yang dipakai menggantikan silase rumput dapat meningkatkan konsumsi hijauan (1,5 kg BK/hari), PBHH (0,23 kg/hari) dan berat karkas (12 kg). Begitu pula hasil dari beberapa penelitian pada sapi perah, menghasilkan hasil positif yaitu meningkatnya konsumsi hijauan (1,5 kg BK/hari), produksi susu (1,4 kg/hari), lemak susu (0,6 g/kg) dan konsentrasi protein susu (0,8 g/kg) (KEADY, 2005). Pemberian silase tanaman jagung kepada sapi potong menghasilkan performans reproduksi yang tidak berbeda nyata bila disuplemen dengan konsentrat campuran jagung dan bungkil kedelai dibandingkan dengan bungkil kanola (HOWLETTet al.,2003). 

 
 


Share this Post :