Menengok Keberhasilan Program Sentra Susu Cipageran


Dec 25, 2016 by Disnak Jabar   Tags      Dibaca : 345 Kali
 

INILAH, Cimahi-Selain fokus pada pengembangan sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM), Pemerintah Kota Cimahi juga mengembangkan cluster usaha terpadu sesuai dengan potensi kearifan lokal.
Salah satu cluster yang dipandang berhasil adalah sentra pengolahan susu di Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi. Hampir memasuki 24 bulan kalender, pemberdayaan ekonomi di sentra susu ini mengalami trend positif.
Dede (43) terlihat puas menatap ternak sapinya yang sehat. Kerja kerasnya memberikan makan, menjaga hingga memperhatikan kesehatan sapi tak sia-sia.
"Alhamdulillah sapi yang baru itu sudah bisa menghasilkan susu paling sedikit 6 liter perharinya," katanya, saat ditemui di Cipageran, Minggu (25/12/2016).
Dede menunjukan seekor sapi yang belum lama dirawatnya. Sapi itu memang masih terlihat muda. Sebelum ada sapi itu, ada beberapa sapi lain milik Dede yang lebih produktif.
"Susunya dikumpulkan. Harganya juga lebih bagus ya. Dipisah-pisah, kalo susunya bagus bisa sepuluh ribu (Rp 10.000) satu liternya," terangnya.
Dede adalah salah satu petani yang ikut program Pemkot Cimahi. Sebelumnya, Pemkot menyiapkan sentra pengolahan susu didaerah Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi.
Program tersebut bekerjasama dengan sejumlah lembaga pendidikan tinggi dan kementrian pertanian. Selain dari sisi pertanian peternakan, hasil susu ini dikembangkan menjadi usaha produktif.
Dede mengakui, sebelumnya dia mendapatkan pelatihan dari pakar pertanian Unpad. Hasilnya, efektivitas beternak sapi lebih baik.
Selain Dede, masih ada banyak warha lain yang mengikuti pelatihan pengolahan susu. Masyarakat di sentra susu itu yang dibagi kedalam 10 kelompok.
Mereka diberi ilmu pengolahan susu. Dari susu murni biasa, masyarakat diajarkan untuk bisa menyulap susu menjadi keju, sabun susu, yoghurt, kerupuk, karamel hingga kue susu.
"Kalau hanya susu murni saja kan harganya standar ya. Nah jika sudah dibuat produk jadi mahal harganya," ucap Elis Ratnaningsih (34), warga Cipageran lainnya.
Dia memisalkan. Susu murni yang belum diproduksi sekitar Rp 4.000 perliter. Namun setelah diolah menjadi sabun susu, 1 liter bisa untuk beberapa sabun dengan harga persabun sekitar Rp 12.000.
"Bimbingan untuk masyarakat dari Unpad bukan hanya produksi saja, melainkan dari segi kesehatan produk hingga pemasaran," kata Elis.
Kabid Ekonomi Bappeda Kota Cimahi, Ricard Nicolas mengatakan, sepanjang program ini digulirkan akhir 2014 sampai 2016 ini, ada perkembangan sangat baik dalam bidang sosial, budaya, bahkan perekonomian masyarakat.
"Silahkan cek ke Cipageran, program sentra pengolahan susu disana telah nyata memberikan manfaat kepada masyarakat," katanya, kepada INILAH, Minggu (25/12).
Bahkan dikatakan, perputaran uang yang dihasilkan masyarakat setempat sangat melimpah. Jumlah lapangan pekerjaan pun jadi terbuka lebar.
Keberhasilan pengembangan sentra susu dan olahan susu sapi berbasis pendekatan sosial atau developing dairy cluster based on sosial capital yang ada di Cipageran Cimahi Utara
Sejak program ini digulirkan akhir 2014 sampai 2016 ini, di Cipageran, awalnya hanya ada 54 peternak sapi yang terbagi kedalam 2 kelompok tani.
"Kini, setelah ada intervensi, jumlah peternak naik signifikan menjadi 90 orang dengan 3 kelompok," imbuhnya.
Dibeberkan data. Hasil olahan susu, awalnya hanya ada 1 jenis produk berupa susu saja yang dijual. Kini, ada lebih dari 10 jenis produk yang laku dijual, mulai dari sabun susu hinga kue dan kerupuk.
Populasi sapi yang diternak juga mengalami peningkatan yang signifikan, selain itu, harga jual susu pun meningkat tajam. Dari yang tadinya dijual seharga Rp 4.200 liter menjadi Rp 5.500-Rp 10.000.
"Total manfaat program secara finansial tentu meningkat. Dari angka Rp 2 Milyar yang dikucurkan melalui APBD, BPPT dan Kementrian PP, kini terkumpul anggaran menjadi Rp 2,6 Milyar," jelasnya.
Dengan kondisi ini, sentra susu tentu bisa ikut menjadi motor penggerak bagi kebangkitan UMKM. Spiritnya bisa menjalar ke bidang lainnya.
Kasie UMKM Bidang Koperasi UMKM Rina Mulyani mengatakan, program peningkatan UMKM yang telah dilakukan mendapatkan respon baik dari pelaku UMKM.
"Kit menghasilkan ratusan penguasaha baru. Ini akan sejalan dengan technopark yang telah menyiapkan program inkubator dan akselerator bagi para pelaku usaha. Mereka akan menjadi lokomotif percepatan usaha bagi yang lainnya," bebernya.
Saat ini, katanya, jumlah UMKM di Cimahi lebih 7.000 pelaku usaha dengan 3.000 pelaku usaha yang aktif produksi. Diklaim, UMKM ini lebih stabil dan tahan terhadap goncangan termasuk saat pelambatan ekonomi pada 2015 dan krisis moneter pada 1997.
Ada empat kluster ekonomi yang memiliki program, antara lain membentuk wirausahawan baru. Jika wirausahawan baru terus bertambah, pada gilirannya akan menyerap tenaga kerja baru.
Adapun empat kluster tersebut yaitu kluster telematika yang antara lain mengembangkan animasi, film, dan IT. Kemudian kluster tekstil dan produk tekstil (TPT), industri makanan dan minuman, serta kluster kerajinan (craft).
Mereka tersebar dalam klaster unggulan, mulai dari klaster industri makanan dan minuman, klaster industri kerajinan, klaster industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dan klaster industri telematika.
"Sepanjang 2016 ini, Diskopindagtan telah melakukan program inkubator dan akselerator," katanyam
Terbaru, pihaknya melakukan pendampingan kepada 8 kelompok dalam inkubator yang terdiri dari 2-4 orang masing-masing kelompoknya. Adapun untuk akselerator, sudah ada 10 angkatan yang diberikan pelatihan.
Program akselerator yakni pelatihan berkelanjutan. Masing-masing angkatan berjumlah 30 orang yang terdiri dari 4 klaster tadi. Hasilnya, sudah ada 300 orang terbina dan siap melakukan percepatan bisnis. Mereka akan menjadi lokomotif percepatan usaha bagi yang lainnya


Share this Post :

Sorotan