Kamis, 20 Nopember 2008
Usaha Peternakan Domba Rakyat, Upaya Mempertahankan Tradisi
Peternakan domba rakyat merupakan bentuk kebiasaanmasyarakat pedesaan yang sudah lama ada di Indonesia. Di pedesaan di Jawa Baratbanyak dijumpai keluarga yang memiliki ternak domba dengan jumlah sedikitbahkan tidak lebih dari 10 ekor. Pemandangan ini menjadi ‘penghias’ susana desaterutama di daerah pegunungan dengan kultur bertani dan beternak sebagai matapencaharian. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan keluarga yang sifatnya turuntemurun dari generasi ke generasi. Peternak seakan tidak mau meninggalkan‘warisan keluarga’ ini walaupun mereka harus memeliharanya dalam jumlah yangsangat sedikit. Terlalu sering mereka mengalami kerugian karena secaraperhitungan ekonomi usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan laba. Apabilasuatu saat domba milik mereka dijual, barang tentu dengan harga alakadarnyayang sudah ditentukan oleh tengkulak/bandar domba. Mereka tidak memikirkanperihal untung atau rugi tetapi ada kepuasan tersendiri ketika mereka dapatmenuai hasil dari apa yang selama ini mereka lakukan.
Saat ini, penulis tidak melakukan pengamatan secarakemperensif dari seluruh peternak domba di Jawa Barat. Tulsan ini lahir daripengalaman penulis sebagai peternak domba, mahasiswa Fakultas Peternakan dankonsumen daging domba. Selama ini terlihat bahwa usaha ternak domba hanyasebagai komoditas peternakan yang tidak diunggulkan dibandingkan sapi potongdan ayam broiler. Hal ini terjadi karena konsumen daging domba masih terbilang sedikitbila dibandingkan dengan konsumen daging sapi dan daging ayam. Para peternakmengalami kesulitan pemasaran walaupun sebenarnya peluang usaha ternak dombaini masih terbuka luas.Penduduk pedesaan merupakan tipe penduduk yang kurangbisa berkarya secara optimal. Tingkat pendidikan menjadi kendala utama daripembentukan pola pikir penduduk pedesaan. Mereka sering merasa cukup dengan apayang mereka miliki selama ini sehingga tidak terpacu untuk melakukan usahalebih baik lagi. Kondisi peternakan rakyat yang minim menjadi gambaran betapausaha ternak rakyat saat ini masih merupakan tradisi keluarga sebagai tabungandi masa depan.
Sumberdaya alam yang tersedia kurang bisa dimanfaatkandengan optimal oleh peternak. Tidak adanya modal menjadi alasan utama kurangberkembangnya usaha ternak domba. Apalagi saat ini kondisi alam sudah tidakmenentu. Musim kemarau panjang menyebabkan penyediaan pakan sebagai penunjangproduksi semakin berkurang. Peternak pun terpaksa mengembalakan dombanya ditegal atau tanah lapang supaya ternak masih bisa bertahan hidup.Problem inibukan hanya tugas Pemerintah Daerah untuk memberikan pembinaan dan bantuan danakepada masyarakat tetapi sudah menjadi tugas semua kalangan yang peduli akankondisi peternakan domba rakyat. Jawa Barat sebagai sentra peternakan dombasudah harus menjadi pionir dalam meningkatkan produksinya dengan senantiasamelakukan pendekatan intensif kepada para petenak rakyat.
Pendekatan ini bermaksud untuk melakukan pembinaan kepadamereka dengan senantiasa terjun lansung dan melakukan apa yang seharusnyamereka perbuat. Kegiatan penyuluhan yang sifatnya sesaat saja tidak cukupkarena terbukti tidak menjadi solusi tetapi harus ada upaya nyata untukmempertahankan kultur beternak domba ini dengan berinteraksi langsung denganmasyarakat. Bila perlu, kita tinggal di daerah itu dan bersama-sama beternakdomba sebagi contoh atas apa yang kita sampaikan kepada mereka.